Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Islam Banjar
Kerajaan Aceh Darussalam
A. Sejarah
Berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam
Kesultanan aceh merupakan kerajaan islam yang berdiri
di provinsi Aceh,Indonesia. Kesultanan ini telah ada di sebelah utara pulau
Sumatra dengan ibu kota Bandar Aceh dengan sultan pertamannya yaitu, Sultan Ali
Mughayat Syah.
Kesultanan aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat
Syah tahun 1946. Pada awalnya kerajaan ini berdiri di wilayah Lamuri, kemudian
menundukan dan menyatukan beberapa wilayah sekitar. Pada tahun 1524 wilayah
pasai sudah menjadi kedaulatan kesultanan aceh didampingi dengan Aru. Setelah
mendeklarasikan berdirinya kerajaan aceh, sultan ali juga meletakkan
dasar-dasar politik luar negri yang isinya sebagai berikut:
1.
Mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pihak luar
2.
Menjalin persahabatan yang erat dengan kerajaan dinusantara
3.
Bersikap waspada terhadap bangsa barat
4.
Menjalankan dakwah islam ke seluruh nusantara
B. Ketentuan
Kerajaan Aceh Dalam Memerintah
Kerajaan
Aceh menerapkan Rukun Kerajaan yang sesuai dengan Islam yaitu :
1. Pedang
keadilan. Maksudnyaa jika tidak ada pedang maka tidak ada kerajaan.
2. Qalam.
Maksudnya jika tidak ada undang-undang maka tidak ada kerajaan.
3. Ilmu.
Maksudnya jika tidak mengetahui ilmu dunia-akhirat, maka tidak bias mengatur
kerajaan.
4. Kalam.
Maksudnya jika tidak ada Bahasa maka tidak bias berdiri kerajaan.
Segala hukum yang berlaku di kerajaan Aceh bersumber pada ajaran islam. Mengenai dengan sumber hukum, juga tercantum dalam Qanun Meukuta Alam disebut dengan jelas yaitu : Alquran, Hadis, Ijma ulama Ahlusunnah wal jamaah , Qiyas.
C. Raja
yang Berpengaruh pada Kerajaan Aceh
1. Sultan
Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
Sultan Ali Mughayat Syah
merupakan raja Kerajaan Aceh yang pertama. Di bawah kekuasaannya, Kesultanan
Aceh dapat melakukan perluasan ke beberapa daerah di wilayah Sumatera Utara,
seperti Daya dan Pasai.
2. Sultan
Salahudin (1528-1537 M)
Pada masa pemerintahan Sultan
SAlahudin keadaan kerajaan goyah dan mengalami kemerosotan sangat tajam. Karena
hal ini akhirnya sultan salahudin digantikan oleh adiknya yang bernama sultan
Alauidin Syah Al-Kahar.
3. Sultan
Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M)
Sultan Alaudin Ri'ayat
Syah al-Kahar merupakan Sultan Aceh pertama yang melakukan penyerangan terhadap
kerajaan-kerajaan yang ada di Semenanjung Melayu. Sultan Alaudin merupakan Sultan
Aceh yang berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki
Ottoman.
4. Sultan
Iskandar Muda (1607-1636 M)
Di bawah pemerintahan
Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya. Kerajaan Aceh
tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahkan
menjadi bandar transit yang menghubungkan parapedagang.
5. Sultan
Iskandar Thani (1636-1641 M)
Dalam menjalankan kekuasaan Sultan Iskandar Thani juga meneruskan tradisi Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar bernama Nuruddin ar-Raniri yang menulis buku sejarah Aceh yang berjudul Bustanu‟ssalatin.
D. Kemajuan
Pada Masa Kerajaan Aceh
Kesultanan ini mengalami kemajuan pada masa Sultan
Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa kepemimpinan sultan Iskandar muda, Aceh
berhasil menaklukan Pahang atau yang biasa disebut dengan sumber timah utama.
Pada tahun 1629, kesultanan aceh melakukan penyerangan terhadap portugis di
Malaka. Serangan ini dilakukan dalam upaya menambah dominasi aceh terhadap
selat malaka dan semenanjung Melayu. Ekspedisi ini gagal, meskipun gagal mereka
tetap mendiami keddah dan membawa masyarakat ke Aceh.
Pada masa sultan Alaidin Righayat Syah didatangkan perutusan diplomatic kebelanda pada tahun 1602 yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Selain itu banyak juga sultan yang mengirimkan surat ke sultan turki, pangeran Maurit dan Ratu Elizabeth. Seluruh hal ini dilakukan semata-mata untuk memperkuat posisi Aceh.
E. Kemunduran
Pada tahun 1641 atau setelah kepergian sultan thani
kerajaan aceh mengalami kemunduran. Kemunduran aceh disebabkan oleh beberapa
factor diantarannya :
a. salah
satunya menguatnya kekuasaan belanda di pulaua Sumatra dan sela Malaka, yang
ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau dan daerah sekitar.
b. adanya
perebutan kekuasaan di sela pewaris tahta kesultanan.
c. Tidak
ada pengganti yang baik setelah wafatnya sultan Iskandar muda
d. Factor
ekonomi yang semakin menurun setelah kematian sultan Iskandar muda
e. Munculnya
kerajaan yang baru
f.
Banyaknya bagian kerajaan yang ingin
melepaskan diri
Pada masa pemerintahan raja terakhir kerajaan aceh,
belanda secara terus menerus melakukan penyerangan terhadap kerajaan aceh.
Setelah melakukan peperangan selama kurang lebih 40 tahun akhirnya aceh jatuh
ketangan kolonial belanda.
Kerajaan Islam Banjar
A. Sejarah
Kerajaan Islam Banjar
Kerajaan Banjar merupakan salah satu kerajaan islam
pertama dan terbesar dalam sejarah perkembangan islam di Kalimantan Selatan. Masuknya
islam di Kalimantan Selatan diperkirakan pada awal abad ke 15.
Namun islamisasi baru mencapai puncaknya pada saat
pasukan kerajaan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu pangeran Samudra
dalam perjuangannya dengan kaum elit istana. Kerajaan Banjar berkembang sebagai
kerajaan yang merdeka dan menjadi kerajaan maritim utama sampai akhir abad ke
18. Wilayah kerajaan Banjar dimasa kejayaannya yang terjadi kira-kira pada abad
ke 17 sampai akhir abad ke 18 meliputi seluruh wilayah Kalimantan Selatan, kota
Waringin hingga ke pulau laut.
B. Islamisasi
Kerajaan Banjar
Setelah pangeran Samudra berhasil menahlukkan kaum
elit istana, ia memenuhi janjinya untuk masuk islam pada tahun 936 H/1526 M
dibimbing oleh Khatib Dayan. Ia menjadi raja pertama yang masuk islam dan
bergelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang Da‟I dari Arab
proses islamisasi suku Dayak yang berlangsung dari
abad ke 16 hingga abad ke 18 berlangsung secara lambat. Birokrasi kerajaan
Banjar pada abad ke 16 hingga abad ke 18 awalnya belum secara langsung
berfungsi secara islamisasi, namun dengan usaha Khatib Dayan, Khatib Banun, dan
Tuan Penghulu membangun berbagai masjid menunukkan kiprah kerajaan dalam
membangun komunitas muslim, kemudian baru pada akhir abad ke 18 dibentuknya
Mahkamah Syariah sebagai birokrasi peradilan. Yang kemudian mengembangkan
jaringan islamisasi keberbagai pelosok melalui peran Mufti, Qadhi, Khalifah,
Khatib, Penghulu, dan Bilal.
Selain islamisasi anggota kerajaan, islamisasi juga
dilakukan oleh pedagang juga para ulama dengan wanita-wanita dari berbagai suku
di Banjar antara lain Biaju, Ngaju, Baumpai, Maayan, Lawangan, dan Bukit
melalui jalur perkawinan. Dari hasil perkawinan tersebut memberikan dampak yang
sangat pesat terhadap perkembangan islam di Banjar dari abad ke 16 hingga abad
ke 19.
C. Sistem
Pemerintahan
Terjadi tiga kali perubahan dalam sistem pemerintahan
kerajaan Banjar, berikut akan dipaparkan sistem pemerintahan perubahan ketiga,
berikut merupakan sistem pemerintahannya:
a. Mufti
: hakim tertinggi, pengawas Pengadilan umum
b. Qadi
: kepala urusan hukum agama Islam
c. Penghulu
: hakim rendah
d. Lurah
: langsung sebagai pembantu Lalawangan (Kepala Distrik) dan mengamati pekerjaan
beberapa orang Pambakal (Kepala Kampung) dibantu oleh Khalifah, Bilal dan Kaum.
e. Pambakal
: Kepala Kampung yang menguasai beberapa anak kampung.
f.
Mantri : pangkat kehormatan untuk
orang-orang terkemuka dan berjasa, diantaranya ada yang menjadi kepala desa
dalam wilayah yang sama dengan Lalawangan.
g. Tatuha
Kampung : orang yang terkemuka di kampung.
h. Panakawan
: orang yang menjadi suruhan raja, dibebas dari segala macam pajak dan
kewajiban.
D. Masa
Kejayaan Kerajaan Banjar
Kerajaan Banjar mencapai puncak kejayaannya pada awal
abad ke 17, dengan lada sebagai komoditas dagang utama. Yaitu pada masa
pemerintahan Sultan Mustain Billah (1595-1620), Sultan Inayatullah (1620-1637),
dan Sultan Saidullah (1637 – 1642). Kemudian pelabuhannya yang menjadi pusat
perdagangan yang mengalami perkembangan yang sangat pesat.
E. Masa
Kemunduran Kerajaan Banjar
Kehadiran pihak Pemerintah Kolonial Hindia Belanda
yang ikut campur dalam urusan adat kerajaan adalah bukti bahwa unsur asing yang
hadir dalam Kerajaan Banjar nantinya akan memunculkan perpercahan dikalangan
istana. Keterlibatan unsur asing dalam urusan istana juga merupakan salah satu
penyebab utama meletusnya perang antara Kerajaan Banjar dengan Pemerintah Kolonial
Hindia Belanda, yang dikenal dengan perang Banjar.
Peperangan
yang berlangsung hampir setengah abad lamanya berakhir dengan kekalahan di
pihak Kerajaan Banjar. Dengan terpatahkannya perlawanan rakyat Banjar pada
tahun 1905, maka hal ini menandai runtuhnya era dari Kerajaan Banjar.


Komentar
Posting Komentar